
Buol, MEDIABUSERNEWS.com, – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan informasi digital, upaya melestarikan sejarah lokal kerap luput dari perhatian. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Saharudin yang akrab disapa Sahar itu, untuk terus merawat jejak sejarah dan budaya Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.
Lahir di Desa Lamadong I 48 tahun silam, Sahar memanfaatkan waktu luangnya di sela tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinkes Buol itu untuk terus meneliti, menulis, dan mendokumentasikan berbagai warisan sejarah daerah. Baginya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas yang menjadi fondasi bagi generasi masa depan, tuturnya kepada media ini kamis, 10/9/2026.
Komitmennya diwujudkan melalui penelusuran arsip kolonial Hindia Belanda, dokumen-dokumen sezaman, hingga tradisi lisan masyarakat Buol. Dengan pendekatan yang menggabungkan sumber arsip internasional dan kearifan lokal, Sahar berupaya merekonstruksi sejarah Buol secara objektif dan berbasis data, terang lelaki murah senyum itu.

Berbagai karya telah lahir dari ketekunan tersebut, di antaranya Buol, Warisan Leluhur dari Sulawesi, Bundel Memorial Buol Masa Pemerintahan Hindia Belanda, Perenji Pombang, Sang Pangeran dari Muara, serta Mitos Masyarakat Buol.
Selain menghasilkan karya orisinal, pihaknya juga menerjemahkan karya penting antropolog Belanda F.A.E. van Wouden guna memperkaya khazanah literatur sejarah dan antropologi daerah, tegasnya
Dikatakan Sahar yang hoby bela diri kung fu itu
riset-riset yang dilakukannya turut mendokumentasikan warisan budaya material Buol dari abad ke-17 hingga abad ke-20. Ketelitian dalam mengolah data menjadikan karya-karyanya sebagai salah satu rujukan penting bagi peneliti, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami perjalanan sejarah Buol secara lebih mendalam.
Saat ini juga, Sahar tengah menyelesaikan buku terbarunya yang memuat dokumentasi warisan budaya material beserta koleksi visual masyarakat Buol. Buku tersebut diharapkan menjadi tonggak penting dalam pelestarian sejarah lokal sekaligus menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda agar semakin mengenal dan bangga terhadap warisan leluhur, imbuhnya.
Di tengah kesibukannya sebagai aparatur negara, Sahar membuktikan bahwa kecintaan terhadap daerah tidak selalu diwujudkan melalui panggung besar. Melalui riset yang tekun dan karya-karya yang lahir dari pena serta dedikasinya, ia terus menjaga memori kolektif masyarakat Buol agar tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman medernisasi digital saat ini.(mhn.ril)


