
Buol.- Sulteng, BUSERNEWS.com, β Program strategis nasional Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, menghadapi sejumlah tantangan serius. Minimnya ketersediaan alat berat, keterbatasan tenaga kerja, kerusakan jaringan irigasi hingga persoalan sumber air menjadi kendala yang menghambat percepatan pekerjaan di lapangan.
Persoalan tersebut mencuat dalam kunjungan kerja Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian di Kantor Pemerintah Kabupaten Buol, Kamis,30/10/2026.
Kunjungan yang berlangsung di ruang kerja Wakil Bupati Buol itu bukan sekadar agenda koordinasi, tetapi juga menjadi momentum evaluasi terhadap progres pelaksanaan program Cetak Sawah Rakyat yang membutuhkan langkah percepatan dan penanganan konkret.
Rombongan dipimpin Kepala BRMP Sulawesi Tengah, Dr. Ruslan Boy, SP., M.Si., didampingi Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof. Dr. Hasil Sembiring, M.Sc., dan Dr. R. Sigit Soebandiono, bersama tim pendamping serta penyuluh pertanian lapangan. Kedatangan mereka diterima langsung Wakil Bupati Buol, Dr. Moh. Nasir Dj. Daimaroto, S.H., M.H.
Dalam evaluasi tersebut terungkap sejumlah persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius. Keterbatasan alat berat dan tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang memperlambat proses pengerjaan lokasi cetak sawah.
Di sisi lain, kondisi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan serta terbatasnya sumber air menimbulkan tantangan tersendiri. Sebab, pencetakan sawah tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan, tetapi harus dipastikan memiliki dukungan pengairan yang memadai agar dapat dimanfaatkan secara produktif oleh petani.
Dampak fenomena El Nino yang masih dirasakan turut menjadi perhatian. Begitu pula potensi alih fungsi lahan sawah yang harus diantisipasi dan dicegah secara ketat.
Persoalan ini menjadi catatan penting. Jangan sampai program yang bertujuan memperluas areal pertanian justru terkendala akibat lemahnya kesiapan sarana dan prasarana pendukung.
Menghadapi berbagai kendala tersebut, Tenaga Ahli Menteri Pertanian menyampaikan sejumlah arahan strategis untuk segera ditindaklanjuti.
Pertama, mengoptimalkan hasil adendum guna mempercepat proses pengerjaan di lapangan. Kedua, segera merampungkan penetapan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) sebagai dasar kepastian sasaran program.
Ketiga, memperkuat koordinasi lintas sektor. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas teknis hingga penyuluh pertanian harus bergerak dalam satu komando agar tidak terjadi hambatan koordinasi yang berpotensi memperlambat pelaksanaan program, ungkapnya.
Arahan tersebut menegaskan bahwa percepatan CSR membutuhkan keseriusan seluruh pihak, bukan hanya sebatas pembahasan administratif, melainkan harus diwujudkan melalui penyelesaian persoalan nyata di lapangan.
Menanggapi berbagai persoalan yang disampaikan pihak Kementerian Pertanian, Wakil Bupati Buol, Dr. Moh. Nasir Dj. Daimaroto, S.H., M.H., menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Buol untuk menyukseskan program Cetak Sawah Rakyat.
Pemda Buol akan segera menggelar rapat koordinasi khusus dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lokasi-lokasi CSR, terutama yang belum terkoneksi secara optimal dengan infrastruktur irigasi dan pengairan.
tidak ada toleransi untuk keterlambatan, tegas Wakil Bupati Buol Nasir dalam arahannya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Pemda Buol menginginkan percepatan nyata. Berbagai hambatan yang ditemukan harus segera diidentifikasi dan dicarikan solusi agar pelaksanaan program tidak terus tertahan.
Di balik target perluasan areal persawahan, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan lahan yang dicetak benar-benar siap ditanami dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat petani.
Karena itu, persoalan alat berat, tenaga kerja, jaringan irigasi, sumber air dan kepastian lokasi harus menjadi prioritas pengawasan.
Publik tentu tidak hanya menunggu pernyataan komitmen ataupun hasil rapat koordinasi. Yang lebih penting adalah bukti pekerjaan di lapangan, penyelesaian kendala teknis, serta kepastian bahwa sawah yang dicetak nantinya benar-benar produktif.
Sinergi Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Buol diharapkan tidak berhenti pada koordinasi, tetapi berlanjut menjadi tindakan terukur dan pengawasan berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan program Cetak Sawah Rakyat bukan semata-mata berapa luas lahan yang berhasil dicetak, melainkan sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan produksi pangan, memperkuat ketahanan pangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Buol.(mbn.001)
BUSER NEWS.COM β Mengulas Fakta,
Mengawal Kebenaran


