
Buol, MEDIABUSERNEWS.com, β Persoalan pendidikan di Kabupaten Buol tidak semata-mata berbicara tentang ketersediaan sekolah, tenaga pendidik maupun kurikulum. Di balik proses pembelajaran, terdapat tantangan yang dinilai semakin kompleks, salah satunya perubahan atau pergeseran nilai belajar peserta didik dari satu dekade ke dekade berikutnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Moh. Thamrin Intam, B.A.E., S.IP, Ketua sekaligus owner Yayasan Amirul Mukminin/Yayasan Pendidikan Buol. Dengan pengalaman sekitar 30 tahun sebagai tenaga pendidik di wilayah Tolitoli dan Buol, dirinya menilai perubahan karakter dan daya serap peserta didik perlu menjadi perhatian serius pemerintah, tenaga pendidik maupun orang tua.

Dikatakanya masalahnya adalah penerapan kurikulum dan implementasi tenaga pendidik, yang berkaitan dengan daya serap peserta didik. Ini juga dipengaruhi oleh pergeseran nilai belajar siswa setiap dekade. Hal inilah yang harus dipahami pemerintah sebagai pemegang kendali kebijakan dalam kemajuan pendidikan,β ujar Moh. Thamrin Intam kepada media ini, sabtu,12/9/2026, di ruang kerjanya.
Daya Serap Siswa Jadi Tantangan
Menurut Thamrin, perubahan zaman turut membawa perubahan terhadap pola belajar, karakter dan daya serap peserta didik. Kondisi tersebut secara langsung maupun tidak langsung memberikan tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik dalam menerapkan kurikulum di sekolah.
Pihaknya menilai persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada guru. Pembenahan pendidikan membutuhkan keterlibatan bersama antara sekolah, orang tua dan pemerintah.
βDaya serap peserta didik merupakan salah satu dampak dari pergeseran nilai. Karena itu, tenaga pendidik sedikitnya memiliki tantangan dalam penerapan pendidikan.
Tugas pembenahan ini adalah tugas bersama antara pendidik, orang tua dan pemerintah,β tegasnya.
SMK Amirul Mukminin siapkan Keahlian
SMK Amirul Mukminin Buol yang berada di bilangan Jalan Sultan Hasanudin, Kelurahan Leok II, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, diarahkan untuk memberikan pendidikan berbasis keahlian.
Sejumlah jurusan yang tersedia antara lain,
Teknik Otomotif Kendaraan Ringan (mobil), Teknik dan Bisnis Sepeda Motor,Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Asisten Perawat Kesehatan dan Teknik Bangunan dan Gedung/Arsitektur.
Pilihan bidang keahlian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam dunia kerja dan kehidupan masyarakat.
Dikatakanya dalam visi pendidikan SMK Amirul Mukminin Buol disebutkan: βTerwujudnya SDM yang bermutu, berakhlak mulia, menguasai IPTEK dan berlandaskan IMTAQ.β
Thamrin juga menekankan pentingnya peserta didik membangun masa depan melalui perpaduan antara iman dan keterampilan.
βWarnai masa depan Anda dengan cahaya iman dan keahlian kerja yang bermanfaat bagi umat manusia, terangnya.
Di usianya yang telah mencapai 70 tahun, Moh. Thamrin Intam masih aktif menyampaikan gagasan tentang pendidikan dan pembangunan. Pria yang juga dikenal sebagai salah seorang pencipta sejumlah lagu Buol tersebut sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Kabupaten Buol.
Pengalaman panjangnya di bidang pemerintahan, pembangunan dan pendidikan membuatnya melihat persoalan pendidikan tidak hanya dari sisi ruang kelas, tetapi juga dari perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Kini, di tengah usia yang tidak lagi muda, ia mengaku mulai lebih banyak memikirkan persoalan kehidupan spiritual dan memperbanyak amal ibadah, khususnya menjalankan shalat.
“Di usia sekarang, saya lebih banyak memperbanyak amal ibadah, khususnya shalat, karena hidup ini hanya sementara,β tambahnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi seorang pendidik senior yang telah melewati perjalanan panjang.
Baginya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak, iman dan keterampilan. Dengan demikian, tantangan pendidikan di Buol bukan sekadar bagaimana kurikulum diterapkan, tetapi sejauh mana kebijakan pendidikan mampu membaca perubahan karakter dan kebutuhan generasi dari waktu ke waktu, pungkasnya.(mbn.001)


